Kendala dalam Budidaya Lele

Posted on

Kendala dalam Budidaya Lele

Budidaya-Lele

Ikan lele termasuk ikan yang sangat mudah dibudidayakan. Secara kasar orang dapat mengatakan bahwa ikan ini jika dipelihara dalam “comberan” saja bisa hidup. Namun dalam budidaya ikan lele ada beberapa permasalahan, terutama permasalahan dalam bidang non teknis budidaya. Disini akan dibahas beberapa permasalahan yang ditemui dalam budidaya ikan lele dari segi sosial ekonomi.

  1. Benih

Sejak tahun 2004, Kementerian Kelautan dan Perikanan telah merilis jenis ikan lele baru yaitu ikan lele sangkuriang yang merupakan hasil perbaikan genetik induk ikan lele dumbo melalui cara silang balik antara induk betina lele dumbo generasi kedua (F2) dengan induk jantan lele dumbo generasi keenam (F6). Ikan lele sangkuriang memiliki sifat lebih unggul dibandingkan ikan lele dumbo biasa. Dengan sifat-sifat yang unggul ini menjadikan ikan lele sangkuriang sebagai primadona baru dalam dunia budidaya ikan. Hal tersebut ditambah jumlahnya yang masih sedikit menjadikan harga benihnyapun naik.

Permasalahan yang ditemukan di lapangan adalah, tidak bisa dibedakannya antara ikan lele dumbo dan ikan lele sangkuriang (karena ikan lele sangkuriang itu sebenarnya ikan lele dumbo juga). Karena harga ikan lele sangkuriang yang tinggi, banyak pedagang benih berlaku curang dengan menjual benih ikan lele dumbo sebagai ikan lele sangkuriang. Hal ini dikarenakan belum adanya sertifikasi khusus untuk benih ikan lele sangkuriang. Selain itu juga benih ikan lele sangkuriang yang telah beredar di masyarakat jika sudah besar dijadikan kembali sebagai induk, sehingga perkembangbiakkannya tidak terkendali. Hal seperti ini bisa mengakibatkan nasib ikan lele sangkuriang menjadi sama seperti ikan lele dumbo yang sudah inbreeding sehingga menghasilkan kualitas benih yang menurun.

  1. Pakan

Biaya pakan memakan sekitar 60-70% dari total biaya produksi perikanan. Permasalahan yang ditemui adalah harga pakan selama ini cenderung tinggi dan terus-menerus naik, sehingga pembudidaya ikan harus mengencangkan ikat pinggang karena harga panen mereka yang tidak kunjung naik. Tingginya harga pakan disebabkan beberapa bahan baku yang masih impor sehingga harganya mahal. Apalagi untuk ikan lele yang sifatnya karnivora, membutuhkan pakan dengan kandungan protein yang tinggi. Sedangkan pembudidaya ikan saat ini sangat tergantung kepada pakan buatan pabrik. Sebenarnya bahan-bahan lokal yang bisa digunakan untuk pakan alternatif banyak terdapat di Indonesia. Namun pembudidaya ikan belum memiliki kemandirian dalam menciptakan pakan alternatif untuk mengurangi biaya produksi akibat pakan.

  1. Pedagang

Ikan lele merupakan ikan yang unik dalam sistem agribisnis. Tidak seperti ikan lain yang semakin besar ukurannya harganya akan semakin mahal, ikan lele justru semakin besar harganya akan turun. Yang menjadi masalah adalah, setiap panen pasti ikan lele akan memiliki tiga ukuran panen yaitu ukuran besar (biasa disebut BS), sedang (biasa disebut daging), dan kecil (biasa disebut sortiran) sehingga otomatis akan ada ikan besar setiap panen. Ikan lele berukuran BS biasanya harganya akan turun disebabkan karena beberapa hal diantaranya ukuran yang disukai adalah ukuran 1 kg isi 7-10 ekor karena pas dengan piring pecel lele, dan karena ikan lele saat ini baru disajikan dalam bentuk pecel lele (yang dijual satuan) maka penjual pecel lele akan lebih menyukai membeli ikan lele yang dalam satu kilogramnya berisi lebih banyak ikan.

Permasalahan yang sering ditimbulkan oleh pedagang pengumpul hasil panen pembudidaya ikan adalah mereka sering memainkan harga. Disaat ikan lele sedang banyak di pasaran, pedagang akan menghitung ikan lele pedaging yang ukurannya agak besar sebagai ikan lele BS. Sedangkan disaat ikan lele sedang jarang di pasaran (yang seharusnya harga ikan lele naik), pedagang akan bertahan dengan harga yang lama yang mengakibatkan pembudidaya ikan harus menjual hasil panennya agar tidak memelihara lebih lama lagi. Sebab jika dipelihara lebih lama lagi akan memakan ongkos pakan lebih banyak dan ikan yang dihasilkan akan berukuran BS sehingga harganya akan turun-turun juga.

  1. Daerah yang minim air

Usaha pembenihan ikan lele dumbo umumnya terbatas pada daerah sentra pembenihan yang memiliki potensi sumber air melimpah. Hal ini menyebabkan kendala bagi kegiatan budidaya ikan lele dumbo pada daerah yang minim air khususnya pada tahap pembenihan. Mengatasi masalah terbatasnya air tersebut, muncul suatu teknologi sistem pembenihan dengan mengoptimalkan pemanfaatan air yang disebut dengan teknologi sistem resirkulasi tertutup. Sistem resirkulasi tertutup merupakan suatu teknologi pemanfaatan air secara terus-menerus tanpa ada pergantian air selama proses budidaya, namun dalam sistem ini juga memiliki kelemahan yaitu menumpuknya bahan organik yang berasal dari sisa pakan dan feses (Sasongko,2001).

  1. Hama dan Penyakit
  2. Hama pada lele adalah binatang tingkat tinggi yang langsung mengganggu kehidupan      lele.
  3. Di alam bebas dan di kolam terbuka, hama yang sering menyerang lele antara lain: berang-berang, ular, katak, burung, serangga, musang air, ikan gabus dan belut.
  4. Di pekarangan, terutama yang ada di perkotaan, hama yang sering menyerang hanya katak dan kucing. Pemeliharaan lele secara intensif tidak banyak diserang hama.

Penyakit parasit adalah penyakit yang disebabkan oleh organisme tingkatr endah seperti virus, bakteri, jamur, dan protozoa yang berukuran kecil.

1) Penyakit karena bakteri Aeromonas hydrophilla dan Pseudomonas hydrophylla

Bentuk bakteri ini seperti batang dengan polar flage (cambuk yang terletak di ujung batang), dan cambuk ini digunakan untuk bergerak, berukuran 0,7–0,8 x 1–1,5 mikron. Gejala: iwarna tubuh menjadi gelap, kulit kesat dan timbul pendarahan, bernafas megap-megap di permukaan air. Pengendalian: memelihara lingkungan perairan agar tetap bersih, termasuk kualitas air. Pengobatan melalui makanan antara lain: (1) Terramycine dengan dosis 50 mg/kg ikan/hari, diberikan selama 7–10 hari berturut-turut. (2) Sulphonamid sebanyak 100 mg/kg ikan/hari selama 3–4 hari.

2) Penyakit Tuberculosis

            Penyebab: bakteri Mycobacterium fortoitum). Gejala: tubuh ikan berwarna gelap, perut bengkak (karena tubercle/bintil-bintil pada hati, ginjal, dan limpa). Posisi berdiri di permukaan air, berputar-putar atau miring-miring, bintik putih di sekitar mulut dan sirip. Pengendalian: memperbaiki kualitas air dan lingkungan kolam. Pengobatan: dengan Terramycin dicampur dengan makanan 5–7,5 gram/100 kg ikan/hari selama 5–15 hari.

3) Penyakit karena jamur/candawan Saprolegnia.

Jamur ini tumbuh menjadi saprofit pada jaringan tubuh yang mati atau ikan yang kondisinya lemah. Gejala: ikan ditumbuhi sekumpulan benang halus seperti kapas, pada daerah luka atau ikan yang sudah lemah, menyerang daerah kepala tutup insang, sirip, dan tubuh lainnya. Penyerangan pada telur, maka telur tersebut diliputi benang seperti kapas. Pengendalian: benih gelondongan dan ikan dewasa direndam pada Malachyte Green Oxalate 2,5–3 ppm selama 30 menit dan telur direndam Malachyte Green Oxalate 0,1–0,2 ppm selama 1 jam atau 5–10 ppm selama 15 menit.

4) Penyakit Bintik Putih dan Gatal/Trichodiniasis

            Penyebab: parasit dari golongan Ciliata, bentuknya bulat, kadang-kadang amuboid, mempunyai inti berbentuk tapal kuda, disebut Ichthyophthirius multifilis. Gejala: (1) ikan yang diserang sangat lemah dan selalu timbul di permukaan air; (2) terdapat bintik-bintik berwarna putih pada kulit, sirip dan insang; (3) ikan sering menggosok-gosokkan tubuh pada dasar atau dinding kolam. Pengendalian: air harus dijaga kualitas dan kuantitasnya. Pengobatan: dengan cara perendaman ikan yang terkena infeksi pada campuran larutan Formalin 25 cc/m3 dengan larutan Malachyte Green Oxalate 0,1 gram/m3 selama 12–24 jam, kemudian ikan diberi air yang segar. Pengobatan diulang setelah 3 hari.

5) Penyakit Cacing Trematoda

            Penyebab: cacing kecil Gyrodactylus dan Dactylogyrus. Cacing Dactylogyrus menyerang insang, sedangkan cacing Gyrodactylus menyerang kulit dan sirip. Gejala: insang yang dirusak menjadi luka-luka, kemudian timbul pendarahan yang akibatnya pernafasan terganggu. Pengendalian: (1) direndam Formalin 250 cc/m3 air selama 15 menit; (2) Methyline Blue 3 ppm selama 24 jam; (3) mencelupkan tubuh ikan ke dalam larutan Kalium -Permanganat (KMnO4) 0,01% selama ± 30 menit; (4) memakai larutan NaCl 2% selama ± 30 menit; (5) dapat juga memakai larutan NH4OH 0,5% selama ± 10 menit.

6) Parasit Hirudinae

 

            Penyebab: lintah Hirudinae, cacing berwarna merah kecoklatan. Gejala: pertumbuhannya lambat, karena darah terhisap oleh parasit, sehingga menyebabkan anemia/kurang darah. Pengendalian: selalu diamati pada saat mengurangi padat tebar dan dengan larutan Diterex 0,5 ppm.


Sumber :

 

Baca Juga :